Selasa, 25 Desember 2018

Mengenal Alloh.
Mengenal Allah (ma'rifatullah) artinya mempercayai dengan sepenuhnya bahwa Allah ta'ala ada (maujud) dan tidak ada sekutu bagi-Nya pada Dzat, sifat dan perbuatan (af'al)-Nya. Artinya Allah tidak serupa dengan sesuatupun dari makhluk-Nya. Keyakinan seperti ini dikenal dalam istilah tauhid dengan Tanzih. Tanzih adalah prinsip keyakinan bahwa Allah ta'ala tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya. Allah ta'ala berfirman:
﴿ ليس كمثله شىء ﴾  (سورة الشورى: 11)
Maknanya: “Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi), dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya”. (Q.S. as-Syura: 11)
Karena prinsip inilah Ahlussunnah meyakini bahwa Allah ada tanpa tempat dan arah, tanpa disifati dengan sifat-sifat makhluk-Nya.  Ayat 11: Surat asy-Syura tersebut adalah ayat yang paling jelas dalam al Qur'an yang menjelaskan bahwa Allah sama sekali tidak menyerupai makhluk-Nya. Ulama Ahlussunnah menyatakan bahwa alam (makhluk Allah) terbagi atas dua bagian; yaitu benda dan sifat benda. Kemudian benda terbagi menjadi dua, yaitu benda yang tidak dapat terbagi lagi karena telah mencapai batas terkecil (para ulama menyebutnya dengan al Jawhar al Fard), dan benda yang dapat terbagi menjadi bagian-bagian (jisim). Benda yang terakhir ini terbagi menjadi dua macam;
1.    Benda Lathif: sesuatu yang tidak dapat dipegang oleh tangan, seperti cahaya, kegelapan, ruh, angin dan sebagainya.
2.    Benda Katsif: sesuatu yang dapat dipegang oleh tangan seperti manusia, tanah, benda-benda padat dan lain sebagainya.
Sedangkan sifat-sifat benda adalah seperti bergerak, diam, berubah, bersemayam, berada di tempat dan arah, duduk, turun, naik dan sebagainya. Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa Allah ta'ala tidak menyerupai makhluk-Nya, Ia bukan merupakan al Jawhar al Fard, juga bukan benda Lathif atau benda Katsif. Dan Ia tidak boleh disifati dengan apapun dari sifat-sifat benda. Ayat tersebut cukup untuk dijadikan sebagai dalil bahwa Allah ada tanpa tempat dan arah. Karena seandainya Allah mempunyai tempat dan arah, maka akan ada banyak yang serupa dengan-Nya. Karena dengan demikian berarti Ia memiliki dimensi (panjang, lebar dan kedalaman). Sedangkan yang demikian itu adalah makhluk yang membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam dimensi tersebut.
            قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "كان الله ولم يكن شىء غيـره" (رواه البخاري والبيهقي وابن الجارود)
Maknanya: Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya”. (H.R. al Bukhari, al Bayhaqi dan Ibn al Jarud)
Makna hadits ini bahwa Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan), tidak ada sesuatu (selain-Nya) bersama-Nya. Pada azal belum ada angin, cahaya, kegelapan, 'Arsy, langit, manusia, jin, malaikat, waktu, tempat dan arah. Maka berarti Allah ada sebelum terciptanya tempat dan arah, maka Ia tidak membutuhkan kepada keduanya dan Ia tidak berubah dari semula, yakni tetap ada tanpa tempat dan arah, karena berubah adalah ciri dari sesuatu yang baru (makhluk).
Maka sebagaimana dapat diterima oleh akal, wujud Allah tanpa tempat dan arah sebelum terciptanya tempat dan arah, begitu pula akal akan menerima wujud-Nya tanpa tempat dan arah setelah terciptanya tempat dan arah. Hal ini bukanlah penafian atas adanya Allah. Sebagaimana ditegaskan juga oleh sayyidina Ali ibn Abi Thalib -semoga Allah  meridlainya-:
            "كان الله ولا مكان وهو الآن على ما عليه كان"
Maknanya: "Allah ada (pada azal) dan belum ada tempat dan Dia (Allah) sekarang (setelah menciptakan tempat) tetap seperti semula, ada tanpa tempat" (dituturkan oleh al Imam Abu Manshur al Baghdadi dalam kitabnya al Farq bayna al Firaq h. 333).
Al Imam As-Sajjad Zain Al Abidin  Ali ibn Al Husain ibn Ali ibn Abi Thalib (38 H-94 H) berkata :
"أنت الله الذي لا يحويك مكان". (رواه الحافظ الزبيدي)
"Engkaulah Allah yang tidak diliputi tempat". (Diriwayatkan oleh al Hafizh az-Zabidi dalam al Ithaf dengan rangkaian sanad muttashil mutasalsil yang kesemua perawinya adalah ahl al bayt; keturunan Rasulullah).
Sedangkan ketika seseorang menengadahkan kedua tangannya ke arah langit ketika berdoa, hal ini tidak menandakan bahwa Allah berada di arah langit. Akan tetapi karena langit adalah kiblat berdoa dan merupakan tempat turunnya rahmat dan barakah. Sebagaimana apabila seseorang ketika melakukan shalat, ia menghadap ka'bah. Hal ini tidak berarti bahwa Allah berada di dalamnya, akan tetapi karena ka'bah adalah kiblat shalat. Penjelasan seperti ini dituturkan oleh para ulama Ahlussunnah Wal Jama'ah seperti al Imam al Mutawalli (W. 478 H) dalam kitabnya al Ghun-yah, al Imam al Ghazali (W. 505 H) dalam kitabnya Ihya 'Ulum ad-Din, al Imam an-Nawawi  (W. 676 H) dalam kitabnya Syarh Shahih Muslim, al Imam Taqiyy ad-Din as-Subki (W. 756 H) dalam kitab as-Sayf ash-Shaqil dan masih banyak lagi.
Al Imam Abu Ja'far ath-Thahawi -semoga Allah meridlainya-  (227-321 H)  berkata:
"تعالـى (يعني الله) عن الحدود والغايات والأركان والأعضاء والأدوات لا تحويه الجهات الست كسائر المبتدعات"
"Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut".
Perkataan al Imam Abu Ja'far ath-Thahawi di atas merupakan Ijma' (konsensus) para sahabat dan Salaf (orang-orang yang hidup pada tiga abad pertama hijriyah). Diambil dalil dari perkataan tersebut bahwasanya bukanlah maksud dari mi'raj  bahwa Allah berada di arah atas lalu Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wasallam naik ke atas untuk bertemu dengan-Nya, melainkan maksud mi'raj adalah memuliakan Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam dan memperlihatkan kepadanya keajaiban makhluk Allah sebagaimana dijelaskan dalam al Qur'an surat al Isra ayat 1.
            Jadi, tidak boleh dikatakan Allah ada di satu tempat atau di mana-mana, juga tidak boleh dikatakan Allah ada di satu arah atau semua arah penjuru. al Imam Abu al Hasan al Asy'ari (W. 324 H) –semoga Allah meridlainya- berkata:
"إن الله لا مكان له " (رواه البيهقي في الأسماء والصفات)
"Sesungguhnya Allah ada tanpa tempat" (diriwayatkan oleh al Bayhaqi dalam al Asma' wa ash-Shifat). Beliau juga mengatakan: "Tidak boleh dikatakan bahwa Allah ta'ala di satu tempat atau  di semua tempat". Perkataan al Imam al Asy'ari ini dinukil oleh al Imam Ibnu Furak (W. 406 H) dalam karyanya al Mujarrad. Syekh Abdul Wahhab asy-Sya'rani (W. 973 H) dalam kitabnya al Yawaqiit Wa al Jawaahir menukil perkataan Syekh Ali al Khawwash: "Tidak boleh dikatakan bahwa Allah ada di mana-mana". Aqidah yang mesti diyakini bahwa Allah ada tanpa arah dan tanpa tempat.
Perkataan al Imam at-Thahawi di atas juga merupakan bantahan terhadap pengikut paham Wahdah al Wujud yang berkeyakinan bahwa Allah menyatu dengan makhluk-Nya atau pengikut paham Hulul yang berkeyakinan bahwa Allah menempati sebagian makhluk-Nya. Dan ini adalah kekufuran berdasarkan Ijma' (konsensus) kaum muslimin sebagaimana dikatakan oleh al Imam as-Suyuthi (w. 911 H) dalam karyanya al Hawi li al Fatawi dan lainnya, juga para panutan kita ahli tasawwuf sejati seperti al Imam al Junaid al Baghdadi (w. 297 H), al Imam Ahmad ar-Rifa'i (w. 578 H), Syekh Abdul Qadir al Jailani (w. 561 H) dan semua Imam tasawwuf sejati, mereka selalu memperingatkan masyarakat akan orang-orang yang berdusta sebagai pengikut tarekat tasawwuf dan meyakini aqidah Wahdah al Wujud dan Hulul.
Al Imam Ahmad ibn Hanbal (w. 241 H) dan al Imam Dzu an-Nun al Mishri (w. 245 H) salah seorang murid terkemuka al Imam Malik menuturkan kaidah yang sangat bermanfaat dalam ilmu Tauhid:
"مهما تصورت ببالك فالله بخلاف ذلك"
Maknanya: "Apapun yang terlintas dalam benak kamu (tentang Allah), maka Allah tidak seperti itu". (Diriwayatkan dari Imam Ahmad ibn Hanbal oleh Abu al Fadll at-Tamimi dalam kitabnya I'tiqad al Imam al Mubajjal Ahmad ibn Hanbal dan diriwayatkan dari Dzu an-Nun al Mishri oleh al Hafizh al Khathib al Baghdadi dalam Tarikh Baghdad)
 Sebagaimana kita tidak bisa membayangkan suatu masa –sedangkan masa adalah makhluk- yang di dalamnya tidak ada cahaya dan kegelapan. Akan tetapi kita beriman dan membenarkan bahwa cahaya dan kegelapan, keduanya memiliki permulaan. Keduanya tidak ada kemudian menjadi ada. Allah jualah yang menciptakan keduanya. Allah berfirman dalam al Qur'an:
﴿ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ    (الأنعام : 1)
Maknanya: "Dan (Allah) yang telah menjadikan kegelapan dan cahaya" (Q.S. al An'am: 1)
Jika demikian halnya yang terjadi pada makhluk, maka lebih utama kita beriman dan percaya bahwa Allah ada tanpa tempat dan arah serta tidak bisa kita bayangkan.
Jadi keyakinan ummat Islam dari kalangan Salaf dan Khalaf bahwa Allah ada tanpa tempat dan arah dan tidak dapat dibayangkan Dzat-Nya, bukan seperti keyakinan sebagian orang yang  meyakini bahwa Allah adalah benda yang duduk di atas Arsy. Keyakinan ini adalah penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya, karena duduk adalah salah satu sifat manusia. Para ulama salaf bersepakat bahwa barangsiapa yang menyifati Allah dengan salah satu sifat di antara sifat-sifat manusia maka ia telah kafir.  Sebagaimana hal ini ditulis oleh Imam ath-Thahawi (227 - 321 H) dalam kitab aqidahnya yang terkenal dengan nama (العقيدة الطحاوية), Beliau mengatakan:
" وَمَنْ وَصَفَ اللهَ بِمَعْنًى مِنْ مَعَانِي اْلبَشَرِ فَقَدْ كَفَر "
"Barang siapa mensifati Allah dengan salah satu sifat dari sifat-sifat manusia, maka ia telah kafir”.



Sifat-Sifat Allah
Para ulama menetapkan adanya tiga belas sifat  wajib bagi Allah (13 sifat yang pasti dimiliki Allah), yang sering terulang penyebutannya dalam al Qur'an, baik dengan lafazh maupun maknanya saja. Yaitu:
1.        al Wujud (Allah ada).
2.        al Wahdaniyyah (tidak ada sekutu bagi-Nya pada dzat, sifat dan perbuatan-Nya).
3.        al Qidam (tidak bermula)
4.        al Baqa (tidak berakhir)
5.        Qiyamuhu bi nafsihi (tidak membutuhkan kepada yang lain dan segala sesuatu membutuhkan kepada-Nya).
6.        al Qudrah (Maha Kuasa).
7.        al Iradah (berkehendak).
8.        al 'Ilm (mengetahui segala sesuatu)
9.        as-Sam'u (mendengar segala sesuatu).
10.     al Bashar (melihat segala sesuatu).
11.     al Hayat (yang maha hidup).
12.     al Kalam (berbicara dengan kalam yang bukan huruf, suara dan bahasa).
13.     al-Mukhalafah li al-Hawadits (maha suci dari menyerupai segala yang baharu).

Karena sifat-sifat ini banyak penyebutannya dalam teks-teks syari'at, para ulama mengatakan: Wajib atas setiap Mukallaf (Wajib 'Aini) untuk mengetahuinya. Dan karena Dzat Allah adalah Azali (tidak bermula), maka demikian pula sifat-sifat-Nya pasti (wajib) Azali, karena kebaharuan sifat suatu dzat  mengharuskan kebaharuan dzat tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar